(Cerita) Tradisi Unik Gaya Pacaran Zaman Dulu
2017-04-21 18:00:00

190 Views 0 Comments

Gaya pacaran anak sekarang sama anak zaman dulu sangat berbeda total. Seperti yang dikisahkan Agus Supriyatna saat bertemu seorang pemilik warung kopi di bilangan Cipete Selatan, Jakarta Selatan.

Pemilik warkop itu bernama Maman Suryaman atau biasa dipanggil Babeh Maman. Dia berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Usianya sudah pasti lebih dari 50 tahun, terlihat dari rambutnya yang sudah mulai menghilang.

Ada sebuah cerita yang menarik yang pernah diceritakan Babeh Maman. Ceritanya soal gaya pacaran tempo dulu, gaya pacaran ala Babeh Maman saat muda.

Babeh Maman bercerita, pacaran dulu dengan sekarang jauh berbeda. Dulu itu, pacaran tak semesum sekarang. Kata dia, dulu jarang yang 'kecelakaan' alias hamil duluan sebelum nikah. Jadi, ketika nikah, kata dia, malam pertama dapat perawan. Bukan dicoblos dulu sebelum pertandingan.

"Malam pertama ya dengan perawan," ujarnya sambil terkekeh.

Satu ceritanya yang menarik adalah soal kebiasaan pemuda desa di zamannya saat menjalani masa pacaran. Terutama ketika menjalani tradisi ngapel alias bertandang ke rumah si pujaan hati.

Ia bercerita, jika tiba malam lebaran, itu adalah saat yang tepat untuk ngapel menguatkan tali asmara. Tentu, tidak dengan tangan kosong ia datang ke rumah si pujaan hati. Ia bawa oleh-oleh.

Salah satu oleh-olehnya adalah mercon ' rarantayan' alias mercon renteng. Apalagi, ia baru saja pulang dari perantauan di Jakarta. Kata dia mercon renteng itu ibarat barang yang wajib dibawa saat ngapel.

"Sudah jadi kebiasaan yang mau ngapel itu harus bawa mercon 'rarantayan'. Enggak tahu saya, sejak kapan kebiasaan itu ada," kata dia.

Mercon renteng itu nantinya harus disulut atau dibakar setelah tiba di pekarangan rumah si pujaan hati. Kata dia, mercon itu ibarat tanda atau semacam pesan untuk memberi tahu warga, bahwa perempuan ini sudah ada yang punya. Sekaligus juga untuk menginformasikan bahwa si pangapel telah datang.

"Nanti setelah mercon sudah habis, baru kita diterima oleh keluarga si cewek. Nah, baru kita serahkan, uang dan barang barang lainnya seperti sampho sabun dan lipstik. Kopi, gula dan kue untuk bapak dan ibunya," katanya.

Kata dia, uang dan barang-barang itu wajib dibawa dan diberikan saat ngapel, selain bawa mercon renteng. Semua itu menandakan bahwa si laki-laki memang serius menjalin hubungan.

"Baru setelah itu kita dibolehkan ngobrol dengan pacar kita," katanya.

Ngobrolnya pun, ujarnya, hanya di teras atau di ruang tamu. Biasanya si ibu perempuan selalu mengawasi.

Sampai larut malam biasanya ia ngapel. Bahkan sampai mau subuh, jelang solat Idul Fitri. Jika si cewek ngantuk, obrolan dilanjutkan dengan bapaknya. Sambil merokok dan ngopi.

Nanti, esok harinya, atau lewat satu hari setelah lebaran, kata Babeh Maman, akan ada balasan dari si cewek. Balasannya berupa masakan jadi.

"Ya dibalas nanti dengan masakan, ada itu pepes ikan, opor ayam, daging dan lain lain pokoknya," kata dia

Balasan masakan itu, ujarnya, menandakan keluarga si cewek memang sudah benar-benar merestui hubungan. Tinggal kemudian antar dua keluarga menindaklanjuti itu. Biasanya akan langsung dibicarakan soal pernikahan.

Ternyata ada tradisi unik dalam dunia asmara di jaman jadul. Tradisi yang sekarang mungkin tak ada lagi. Sekarang anak anak muda yang sedang kasmaran tak perlu repot-repot bawa mercon dan lain-lain. Ingin ketemu tinggal kirim SMS atau diam- diam bertemu empat mata di suatu tempat.

"Anak-anak muda zaman sekarang kalau pacaran sudah nekad-nekad. Dulu, kita mau jalan sama pacar saya, harus betul-betul betul-betul diijinin bapaknya. Bapaknya harus tahu dan waktu pulangnya ditentukan. Misalnya harus sampai jam sekian, ya pulang harus jam sekian. Tidak berani kita dulu, ketemu sembunyi-sembunyi," katanya.

Kalau pun siang hari, kata Babeh Maman lagi, ini akan digunakan oleh si laki-laki untuk memikat hati calon mertua. Misalnya ikut bantu calon mertua di sawah. Itu akan jadi nilai lebih di mata si calon mertua.


https://www.vebma.com/curhat/kisah-gaya-pacaran-zaman-jadul-yang-unik-dan-menarik/11241

Related Articles

Comments